Ulat Tepung

September 9, 2013

Siklus Hidup

            Ulat tepung mengalami metamorphosis sempurna (Frost, 1959). Kumbang bersifat holometabola (metamorphosis sempurna), perkembangan lingkaran hidupnya dimulai dari telur, menetas jadi larva, larva berkembang dan setelah mengalami beberapa kali ganti kulit menjadi pupa, selanjutnya setelah cukup umurnya, kumbang dewasa keluar dari pupa (Tjahjadi, 1993).

Telur serangga berbentuk bulat, oval atau memanjang. T. molitor bertelur sekitar 150 telur selama tiga bulan. Telur akan menetas 4-19 hari (Petersen, 2005). Telur menetas setelah berumur lima hari, tahap larva 87,7 hari, pupa tujuh hari dan kumbang 78 hari. T. molitor mengalami moulting dan terjadi tidur (tidak bergerak) tetapi masih hidup pada musim dingin (Jacobs dan Calvin, 1988).

Larva merupakan bentuk siklus hidup kedua dan mempunyai 13-15 segmen berwarna coklat kekuning-kuningan pada bagian tubuh (Salem, 2002). Tahap pupa merupakan tahap antara larva dan dewasa dan saat pupa ulat tepung tidak makan dan biasanya tidak aktif (Borror et al., 1982). Pupa dapat mencapai panjang sekitar 15 mm, lebar 5 mm dan berwarna  putih ketika pertama kali terbentuk kemudian berubah menjadi berwarna coklat kekuningan (Salem, 2002).

Tahap akhir setelah pupa yaitu kumbang dewasa. Kumbang dewasa biasanya pucat warnanya bila serangga muncul pertama kali dari pupa, dan sayap-sayapnya adalah pendek, lunak dan berkerut (Borror et al., 1982). Tubuh kumbang akan mengalami pengerasan (sklerotisasi) yang kuat dan berwarna lebih gelap, biasanya memerlukan waktu dari beberapa jam sampai waktu yang lama tergantung jenisnya  (Amir & Kahono, 2003). Induk Tenebrio (kumbang) berwarna hitam berkilauan, panjangnya sekitar 15-20 mm (Salem, 2002).

 

Moulting

            Moulting adalah suatu mekanisme yang biasa dari pertumbuhan berdasarkan keadaan kutikula. Pada semua serangga perhitungan dari pertumbuhan yang diterima pada setiap pergantian kulit dapat diperkirakan dengan hokum empiric yang utama.  Jumlah moulting bervariasi dengan perbedaan spesies atau kelompok serangga karena dipengaruhi oleh temperature, kelembaban dan jumlah makanan yang tersedia. Larva tumbuh  dengan moulting  9-12 kali dalam waktu 6-7 minggu dan akan tumbuh mencapai 2,5-3 cm (Petersen, 2005).

Kebutuhan Pakan

            Makanan larva dan serangga dewasa pada umumnya berbeda. Umumnya makanan larva dan serangga pada umumnya berbeda. Umumnya makanan larva dan serangga dewasa berupa hewan atau tanaman yang masih hidup maupun yang sudah mati, ada juga yang makan akar tanaman (Pracaya, 2003). Makanan yang dibutuhkan serangga meliputi 10 asam amino esensial yaitu : arginin, histidin, isoleusin, leusin, metionn, fenilalanin, treonin, triptofan dan valin (Borror et al., 1982).

Konsumsi dan Konversi Pakan

            Tingkat konsumsi adalah jumlah makanan yang dikonsumsi oleh hewan bila bahan makanan tersebut diberikan ad libitum (Parakkasi, 1999) dan ransum yang dikonsumsi pada berbagai umur tidak tetap sesuai dengan laju pertumbuhan dan tingkat produksi (Amrullah, 2003). Konsumsi umum adalah jumlah ransum yang dimakan dalam jangka waktu tertentu yang akan digunakan oleh ternak untuk memenuhi kebutuhan energy dan zat makanan lain. Ternak akan mencapai penampilan produksi yang optimum sesuai dengan  genetiknya, apabila mendapat zat-zat makanan yang sesuai dengan kebutuhan yang diperoleh dengan cara mengkonsumsi sejumlah ransum tertentu (Borror et al., 1982).

Untuk menekan biaya produksi semakin banyak usaha menggunakan bahan makanan yang tidak bersaing dengan hewan lain, terutama manusia (Parakkasi, 1999). Semakin baik mutu ransumnya, semakin kecil npula konversi pakannya (Sarwono, 2003).

 

Mortalitas

Mortalitas merupakan salah satu faktor yang penting dalam mengukur keberhasilan pemeliharaan ternak. Mortalitas adalah perbandingan antara jumlah seluruh ternak mati dengan jumlah total ternak yang dipelihara. Mortalitas dalam usaha peternakan dapat disebabkan karena manajemen pemeliharaan yang kurang baik (Haryadi, 2003). Hasil penelitian Paryadi (2003) menunjukkan, bahwa respon tingkat mortalitas yang tidak berbeda nyata mengindikasikan, bahwa spesies ulat tepung cukup toleran terhadap kandungan protein pakan dengan kisaran yang relatif luas (15,60-21,38%). Koefesienan keragaman tingkat mortalitas dalam penelitian ini semakin besar sejalan dengan penggunaan pollard. Hal tersebut menunjukkan, bahwa ulat tepung semakin sensitif terhadap penggunaan pollard yang terlalu tinggi sehingga mortalitas dari tiap kelompok sangat beragam. Koefesienan keragaman mortalitas yang tinggi pada semua perlakuan menunjukkan, bahwa mortalitas pada ulat tepung dipengaruhi oleh faktor lain di luar faktor perlakuan.
Mortalitas terjadi selama moulting, juga dalam tahap larva atau antara larva dan pupa, atau pupa dan dewasa (Schaffler dan Isely, 2001). Semakin rendah suhu lingkungan akan memperlambat perkembangan (memerlukan lebih dari enam bulan) dan temperatur yang tinggi dapat mengakibatkan peningkatan mortalitas (Culin, 2005).
Faktor suhu dan kelembaban lingkungan harus diperhatikan dalam masa penelitian ulat hongkong. Artinya, suhu dan kelembaban lingkungan membeikan pengaruh langsung dan tidak langsung pada ulat tepung. Bila suhu dan kelembaban pada tempat pemeliharaan ulat hongkong tinggi mengakibatkan ulat tepung menjadi stress sehingga berpengaruh pada tingkat konsumsi pakan yang menurun maka diperoleh pertumbuhan ulat hongkong yang tidak optimal dan bahkan terjadi tingkat mortalitas yang tinggi (Hutauruk, 2005).

Filed in Uncategorized at 8:53 am

no comments

Epivag

October 1, 2011

menurut blabla “Epivag” merupakan suatu penyakit viral yang menyerang organ reproduksi baik pada sapi jantan maupun betina, disebabkan oleh virus dan hanya terdapat di benua Afrika. Nampaknya sapi-sapi sialng Inggris di Afrika sangant peka terhadap penyakit tersebut. Mengingat bahwa sapi-sapi silang Inggris sudah banyak di impor ke Indonesia, maka perlu diperhitungkan kemungkinan penyebaran penyakit tersebut di Indonesia.

Sumber : Riaptondi.1985.Evipag sebagai Penyebab Kegagalan Reproduksi dan Penanggulangannya pada Sapi. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

URL: http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/39773

http://repository.ipb.ac.id/handle/123456789/39773

Filed in Uncategorized at 4:37 am

no comments